Loading...

085749607473 Jual Peci Kopiah Songkok Jawaban terhadap Uraian Vaksinasi Pertama Kali oleh Dokter Muslim



Jawaban terhadap Uraian Vaksinasi Pertama Kali oleh Dokter Muslim
Posted on Oktober 17, 2011
Tahnik sebagai imunisasi Alami VS Vaksinasi Modern
Bismillah. Assalamu’alaykum wa rahmatullah.
Perdebatan pro – kontra vaksin sepertinya kian memanas, mengingat dalam 1 ahad ke depan yaitu Pekan Imunisasi Nasional (PIN) dimana semakin banyak orangtua cerdas memilih uuntuk menghindari vaksin. Berbagai macam alasan para orangtua untuk memilih mengatakan TIDAK UNTUK VAKSINASI, kelompok ini lebih dikenal dengan kelompok kontra vaksinasi sebagai kelompok minoritas. Diantara bantalan an mereka yaitu kekhawatiran akan ancaman vaksin dan dari segi halal/haramnya produk yang digunakan. Sebagai Negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, tentunya wajar sekali jikalau info halal/tidaknya menjadi perhatian khusus para orangtua.
Dan hal tersebut pula yang saya kritisi kepada pihak Biofarma, sebagai produsen vaksin lokal. Dimana sepengetahuan saya bahwa dalam menentukan halal/tidaknya sebuah produk, diwajibkan proses audit dari LPPOM MUI. Namun ternyata, lembaga tersebut tidak pernah mengaudit dan pihak Biofarma mengakui bahwa mereka tidak pernah meminta untuk diaudit. Aneh bukan? Pengakuan ini saya peroleh ketika menghadiri debat pro-kontra imunisasi yang diselenggarakan oleh majalah Ayahbunda di Jakarta.
Dalam 1 ahad menjelang dilaksanakannya PIN, situasi perdebatan semakin memanas. Kemudian muncul sebuah argumentasi yang memojokkan pihak kontra vaksinasi melalui sebuah blog.
Uraian ini bukan untuk menyudutkan siapapun, lebih menunjukkan ketegasan sikap atas PRINSIP DASAR ALASAN bagi pihak kontra dalam menolak vaksinasi. Saya akan mencoba menjabarkan secara bertahap analisa dan tanggapan atas argumentasi di bawah ini.
Dari sebuah blog yang saya baca, menuliskan bahwa “sistem imunisasi/vaksinasi berasal dari dokter-dokter muslim zaman khalifah Turki Utsmani, dan cikal bakalnya sudah ada dari zaman khilafah abbasiyah. Referensi informasi tersebut menurut penuturan si pengirim sumber email ada pada buku “1001 Inventations Muslim Heritage in Our World” page 178. Tertera: “The Anatolian Ottoman Turks knew about methods of vaccination, they called vaccination Ashi. or engrafting, and they had inherited it form older turkic tribes”
Dalam hati, sejujurnya saya terkagum-kagum bahwa begitu hebatnya ilmuwan Islam namun sampai ketika ini dunia barat pun masih belum menunjukkan pengesahan kepada para ilmuwan Islam. Satu kata yang menarik perhatian saya yaitu “ENGRAFTING”. Saya memiliki latar belakang pendidikan dokter umum dan kebetulan ayah yaitu seorang dokter seorang andal bedah, sehingga kata “ENGRAFTING” sudah sering saya dengar semenjak beranjak remaja.
Jika merujuk pada kamus kedokteran maka kata tersebut memiliki arti melaksanakan penanaman pada adegan tubuh, bisa kulit dan sebagainya.
Lalu alasannya semakin penasaran akan istilah ASHI / ENGRAFTING di jaman tersebut, maka saya telusuri mbah google demi memuaskan keingintahuan. Prinsip dasar saya bahwa ilmu yang diterima haruslah seimbang, dalam arti cek dan ricek yaitu penting.
Sebagai kelanjutan dongeng terhadap blog tersebut, maka mari kita lanjutkan sampai selesai uraian tersebut yah.
“Informasi berikutnya yaitu Lady Mary Wortley Montagu (1689- 1762), istri dari duta besar Inggris untuk Turki ketika itu, membawa system vaksinasi ke Inggris untuk memerangi smallpox, tapi ditolak oleh pemerintahan Inggris ketika itu.
Untuk informasi mengenai Lady Mary ini, bisa juga dibaca di: www/.psychologytoday.com/blog/child-myths/200909/lady-mary-wortley-montagucontributor-public-health
Berikut kutipan goresan pena pada URL tersebut:
“Lady Mary Wortley Montagu was a pretty girl until she had smallpox at age 26 and was left with many pitted scars on her face and no eyelashes. Her only brother died of the disease. Despite her disfigurement, Lady Wortley Montagu recovered her health and energy. (And we should remember that plenty of other people had smallpox scars on their faces at that time, so the impact was not exactly what it would be if someone today had the same appearance.) With her husband, who was the British Ambassador to Turkey, and their little son and daughter, she traveled to what was then part of the Ottoman Empire.
She watched with interest as Turkish women carried out a method of inoculation for smallpox. This she described in letters to her family back in England. The Turks waited until cool fall weather came after the heat of the summer was over. They inoculated children by using the purulent matter from the sores of a person who had become infected with smallpox. Cutting into 5 or 6 veins (on the legs or upper parts of the arms), they poked the smallpox matter into the incision and then bandaged the site. The children seemed fine for some days, developed a fever for a few more days, and then generally recovered — immune to smallpox. Lady Wortley Montagu decided to have her own young son inoculated, accepting the fact that a small number of children were harmed by the inoculation, and he recovered well— immune to smallpox. Returning to England, Lady Wortley Montagu began efforts at public education about inoculation. Her friendship with the then Princess of Wales, later Queen Caroline, was a great support to her work (although it’ s probably the case that Lady Mary could have accomplished more if she’d had fewer boyfriends, who didn’t seem to mind the lack of eyelashes). Because of these efforts, the British public was prepared to pay attention 30 years later when Edward Jenner published his evidence about smallpox vaccination.”
Semakin penasaran dengan dongeng diatas, maka saya telusuri lebih jauh perihal smallpox, Edward jenner dan ashi Turkic tribes. Pencarian hasilnya membuat saya menemukan link ini http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC1200696/ dimana dalam link ini merupakan jurnal ilmiah akan sejarah Edward Jenner sebagai penemu vaksin cacar air/smallpox.
Dalam pengkajian lebih lanjut, semakin memperkuat keyakinan saya bahwa vaksin ketika ini dengan teknologi modern memang berbahaya tidak hanya bagi orangtua namun juga bagi bayi dan anak-anak.
Prinsip dasar ASHI atau Inokulasi pada jaman itu hampir sama dengan prinsip vaksinasi alamiah yang masyarakat lakukan terhadap campak. Tentunya ayah bunda pernah mendengar proposal banyak pihak bahwa jikalau ada yang sakit campak, maka biarkanlah anak kita tertular dengan demikian anak akan memiliki antibody terhadap penyakit tersebut dengan sendirinya.
Nah ASHI, memang memaparkan penyakit terhadap orang sehat dengan cara melaksanakan sayatan pada kulit kawasan subkutan dan menunjukkan adegan dari cacar air kedalamnya. Mirip namun tak sama.
Kemudian bisa dibaca pula uraian mengenai tugas wanita tersebut diatas dalam dunia kesehatan masyarakat pada link ini eurpub.oxfordjournals.org/content/18/4/353.full
Setelah tuntas membaca dan mengkaji, Alhamdulillah keyakinan saya tidak berubah bahkan semakin menguatkan bahwa vaksin modern yang dipergunakan ketika ini memang berbahaya.
Mereka telah salah memahami bahwa penolakan kami yaitu pada prinsip vaksinasinya. Padahal, penolakan kami yaitu penggunaan materi kimia yang berbahaya didalam vaksin modern tersebut. Jika dianalisa dari tindakan vaksinasi “kuno”, bisa kita pahami bahwa jaman itu mereka TIDAK menggunakan bahan-bahan kimia ibarat merkuri, garam alumunim, atau bahkan menggunakan media hewan haram dalam proses pengembangbiakkan kuman/virus.
Bagaimanapun dalam hati kecil saya ketika membaca dan mencari tahu lebih jauh, berpegangan pada prinsip bahwa seorang MUSLIM akan menghindari penggunaan materi haram dan berbahaya. Dan itu TERBUKTI.
Untuk mengetahui bagaimana tugas garam alumunium dalam tubuh, silakan dibaca penelitian ini dimana garam alumunium yang disuntikkan kedalam badan seekor tikus menunjukkan kerusakan bahkan kehancuran dari sel setiap organ tikus tersebut. Dosis yang digunakan tentunya diadaptasi dengan badan tikus tersebut. Lalu bagaimana dengan badan seorang bayi yang dilakukan berulang kali?
Link terhadap penelitian alum atau garam alumunium bisa dibaca disini :
Link diatas hanyalah mengenai fakta akan ancaman garam alumunium yang digunakan sebagai materi adjuvant di SEMUA vaksin. Untuk materi vaksin lainnya, silakan ayah bunda telusuri mbah google dan berguru menganalisa sendiri yaahh..
Mari dilanjutkan uraian dari blog diatas : “Adalagi informasi lainnya. Untuk vaksinasi dasar, Indonesia telah berhasil membuat vaksin sendiri, sudah terbukti uji klinis dan epidemiloginya, bahkan dieskpor untuk kepentingan regional Asia Tenggara, di Biofarma, Bandung.
Masalah yang berkembang dan mencuat belakangan yaitu vaksinasi tambahan, termasuk meningitis untuk calon jamaah haji atau vaksin HPV, yang masih diproduksi oleh produsen luar negeri semisal GSK.
*menurut penuturan seorang guru ngaji bahwa kebetulan ia bekerja di balai POM, sudah ada vaksin meningitis yang halal untuk calon jemaah haji*”

Mengenai vaksin meningitis, ayah bunda bisa baca sendiri di harian Republika edisi Jumat tanggal 14 Oktober 2011. Vaksin tersebut bahkan baru-baru ini kembali dikritisi oleh Mantan Menkes Siti Fadhillah Sapari bahwa semua vaksin tersebut tetap mengandung materi haram alias babi. So, menurut saya dalam mencari sebuah informasi bukan sekedar berbicara dengan seseorang yang ilmunya terbatas.
Alhamdulillah informasi ini saya dapatkan LANGSUNG dari bu DR. dr Siti Fadhillah Sapari, SpJK (K) sebagai mantan menkes lohh.. Ditambah dengan pengesahan dari Biofarma bahwa mereka TIDAK PERNAH diaudit oleh pihak yang berwenang dan dalam hal ini yaitu LP POM MUI.
Kalimat terakhir yang mendorong saya untuk meluruskan informasi dari blog tersebut yaitu pernyataan bahwa seseorang yang bukan berasal dari kedokteran sebagaimana tertulis demikian “apalagi kalau munculnya dari orang-orang yang bukan ahlinya, atau bahkan ga punya background pendidikan kedokteran sama sekali.”
Buat saya, seorang dokter atau bukan – ia punya kemampuan untuk BELAJAR dari siapapun. Gelar dan sebagainya bukan jaminan bahwa individu tersebut akan berkata benar. Belajar yaitu kata kunci yang luar biasa. Bahkan Rasulullah shalallahu alayhi wa salam menyuruh kita untuk tidak taqlid atau berguru ibarat kerbau dicucuk hidungnya, dimana apapun perkataan seseorang yang dianggap berakal pribadi dijadikan hukum tanpa mempelajari lebih jauh. Dan Alhamdulillah informasi yang saya terima justru berasal dari sosok-sosok yang memiliki kompetensi tinggi, ibarat DR. dr. Siti Fadhillah Sapari, SpJK(K) dan Prof. DR. Hasyim dari LP POM MUI.
Kritikan tajam saya tujukan pada kalimat ini “sorry to say, maap- maap yeee kalo agak kasar, menurut saya, orang renta yang menganggap tidak mengimunisasi anaknya yaitu pilihan terbaik dan yaitu hak dia untuk memilih untuk tidak mengimunisasi yaitu orang renta yang LUPA, lupa bergotong-royong ada HAK ORANG LAIN untuk merasa aman dari ancaman penyakit yang mematikan.”
Sebagai seorang dokter, saya memahami dengan baik bahwa jikalau basil yang disuntikkan dalam badan seseorang dengan daya tahan badan yang menurun maka kuman/virus tersebut menjadi aktif bahkan menginfeksi badan yang mendapatkan vaksin tersebut. Dalam hal ini, siapakah yang berjalan-jalan membawa materi penyakit dan memiliki resiko menunjukkan penularan kepada anak lainnya yang sehat? Sehat tanpa materi kimia, sehat alasannya ibunya menunjukkan pengobatan ala Rasulullah shalallahu alayhi wasalam?
Ditambah lagi pengesahan dari salah seorang karyawan Biofarma bahwa penyimpanan vaksin tersebut di beberapa wilayah pelosok Indonesia TIDAK MEMENUHI STANDAR, sehingga kemungkinan vaksin rusak atau terkontaminasi sangat besar.
Kembali pada dongeng di blog tersebut “mau ngutip kalimat temennya ayah, ia punya background pendidikan kedokteran dan sedang mengambil jenjang spesialis, aaahh:
“ﻪّﻠﻟَﺍ sdh Mengaruniakan logika buat kita, ilmu pengetahuan insan sudah tahu perihal vaksinasi, kampanye sudah dijalankan, digratiskan lagi oleh pemerintah. Secara rasional, ga ada alasan lagi untuk ga vaksinasi jadi, anggapan bahwa imunisasi / vaksinasi berasal dari kedokteran barat yang penuh konspirasi untuk melemahkan umat muslim, gimana?”

Sebagai seorang dokter, walaupun dokter umum, satu hal yang saya ketahui bahwa pribadi muslim diberikan logika dan pikiran pertama kali yang dilakukannya yaitu MEYAKINI AYAT-AYAT ALLAH dan RASULNYA. Selanjutnya gres kewajiban untuk mengkaji dan telaah.
Saya dan barisan orangtua kontra vaksin kimia telah memilih ASI sebagai vaksin alami, alasannya kami meyakini QS. AL BAqarah : 233 dan dari ayat tersebut kami kaji lebih jauh. Saya pribadi membutuhkan waktu 7 tahun untuk meyakini bahwa inilah maksud dari ayat Tuhan subhanahu wa ta’ala itu, bahwa ASI yaitu VAKSIN ALAMI bagi setiap anak insan yang lahir di muka bumi.
Bukti ilmiahnya apa? Silakan membaca pada link dibawah ini, bahwa dr Albert Sabin pada awal merintis percobaan vaksin polio – ia menggunakan kolostrum insan dan sapi sebagai obat. Jurnal ini menunjukkan bahwa hewan yang terinfeksi oleh polio, 84% sembuh dengan dukungan kolostrum.
Pada adegan selesai penulis menyampaikan, “Silahkan menilai dan menjawab sendiri yaaaa”

Maka saya menjawab, “Betul sekali. Mari silakan menilai, megkaji dan menjawab sendiri. Kebenaran hanyalah milik Tuhan subhanahu wa ta’ala semata dan kelemahan yaitu dalam diri saya sebagai penulis. BELAJAR dan DO’A untuk mendapatkan cahaya kebenaran. Semoga ayah bunda tidak membutuhkan waktu selama 7 tahun ibarat saya dalam meyakini kebenaran tersebut.”
Sekali lagi bukanlah sekedar halal/haram semata namun materi kimia didalam vaksin tersebutlah yang mendorong kami untuk mengatakan dengan lantang “NO TO VACCINE”.

lainnya 2675392219488883354

Posting Komentar

emo-but-icon

Beranda item

Popular Posts